Nama : Maria Gabriela (2013 012 459)
Tugas : Filsafat Ekonomi
Sesi : B
Filsafat Ekonomi bersifat Kritis
Filsafat, sebagai metode pemikiran yang bertanya tentang sifat dasar dan
hakiki dari realitas, merupakan suatu ‘seni kritik’. Filsafat ekonomi menggali
segala sesuatu secara fundamental, untuk menemukan pusat permasalahan yang
harus dipecahkannya secara rasional dan bertanggung jawab. Filsafat adalah ilmu
yang menyelidiki hal-hal mendasar dan menyeluruh. Berbeda dengan cabang ilmu
lainnya, filsafat mengkaji segala sesuatu secara menyeluruh. Oleh karena itu,
filsafat bersifat kritis. Kritis di sini dalam artian terus menerus bertanya tentang
hal-hal fundamental dan mencari jawaban secara rasional dan bertanggung jawab.
Menurut Franz Magnis Suseno, sifat kritis merupakan
merupakan tuntutan internal dari berpikir filosofis itu sendiri. Filsuf harus
selalu kritis, bertanya dan mencari jawaban-jawaban rasional. Berfilsafat
dengan demikian merupakan berpikir kritis; selalu harus bertanya secara fundamental
dan mencari jawaban rasional. Di sinilah terletak tanggung jawab filsafat,
yakni dimana filsafat secara kritis terus menerus mempertanyakan dan juga harus
berani menawarkan jawaban-jawaban rasionalnya bagi permasalahan-permasalahan
manusia. Filsuf bertanggung jawab dalam mempertanyakan apa yang nampaknya sudah
jelas dan juga berani mengajukan jawaban-jawaban rasionalnya, serta terbuka
pada kritik dan pertanyaan. Dalam hal ini, filsafat juga terbuka terhadap
segala kritik yang menyangkal jawabannya dan berani mengajukan argumentasi
rasional secara objektif, sehingga jawaban yang diberikan bisa dimengerti
secara intersubjektif.
Menurut filsuf
lainnya, yakni A.
Sonny Keraf, mempunyai pemahaman bahwa ilmu filsafat merupakan ilmu tentang bertanya atau
bepikir tentang segala sesuatu dari segala sudut pandang. Filsafat adalah sebuah sistem pemikiran yang terbuka
untuk dipertanyakan dan dipersoalkan kembali. Filsafat adalah sebuah pertanyaan
bukan pernyataan.
Dengan demikian, filsafat memang sebuah ilmu kritik,
seni kritik. Secara eksternal, filsafat terus-menerus mengajak ilmu-ilmu lain
untuk beranjak dari kemapanan; dan secara internal, filsafat tidak monoton dalam
suatu klaim kebenaran dengan selalu mempertanyakan dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar