Nama : Maria Gabriela
NIM : 2013 012 459
Tugas : Filsafat Ekonomi (Sie B)
Kapitalisme
Dialektika dan dinamika
sistem ekonomi dunia, pada tingkat ketegangannya yang paling tinggi, adalah
terjadi antara aliran libralis-kapitalis versus sosialis-komunis. Mainstream dua sistem perekonomian
tersebut, pada umumnya merujuk pada dua tokoh besar yakni Adam Smith sebagai
representasi dari aliran pertama, dan Karl Marx sebagai representasi dari yang
kedua.
Kedua sistem ekonomi
tersebut telah menancapkan sebuah fakta dalam proses sejarah manusia dan
sekarang mengental menjadi “rezim” peradaban. Seluruh wacana, selalu melibatkan
atau bahkan merujuk pada dua aliran di atas. Sehingga dunia seolah hanya
disodori oleh dua tawaran: liberalis atau sosialis, komunis atau kapitalis,
kanan atau kiri dan seterusnya.
Khusus dalam dunia ekonomi,
arus utama dari sistem nilai atau paradigma yang mendominiasi sebagai dasar
operasional berjalanya aktifitas ekonomi global adalah dua aliran tersebut.
Sistem ekonomi adalah fenomena sosial yang berada dalam koridor
liberalisme vs vissosialisme.
Bahkan meskipun sekarang, sedang berkembang sistem ekonomi Islam atau ekonomi
Syari’ah, namun ketika diselidiki lebih mendalam, ternyata di dalamnya juga
sangat kapitalis. Bahkan bank Syari’ah yang selama ini sedang menggejala
ditengarai lebih kapitalis daripada bank konvensional. Dalam realitas
empiriknya, sistem operasional bank Syari’ah tetap merupakan modifikasi dari
sistem kapitalis. Hanya saja pola managemennya lebih dilabeli dengan istilah
Islam atau Syari’ah.
Sepanjang sejarahnya, kedua
sistem ekonomi di atas, masing-masing berusaha untuk mendominasi dunia. Kedua
aliran tersebut mempunyai landasan etis yang di dalamnya masing-masing
menawarkan mimpi-mimpi kesejahteraan dan kemakmuran. Hanya saja tipe dan dasar
operasionalnya berbeda.
Bagi liberalisme, untuk
menciptakan kemakmuran, maka sebagai prasyaratnya harus diciptakan ruang
kebebasan bagi para indifidu untuk menentukan dan mengejar kepentingan ekonomi.
Pola semacam ini mengandaikan adanya sistem kompetensi yang tinggi. Sehingga konsekuensinya,
bagi mereka yang kuat yang berhak memenangkan pertarungan. Sementara bagi
mereka yang lemah, harus bersedia menyingkir dari percaturan ekonomi-politik
dunia.
Pertarungan ternyata
dimenangkan oleh kubu liberal-kapitalis. Maka, muncullah sistem kelas. Dalam
sistem ini, negara, regulasi, sistem perundang-undangan dilarang keras
melakukan intervensi, melainkan harus membuka jalan demi terimpelementasikannya
sistem tersebut.
Sebaliknya, traktat ekonomi
sosialis percaya bahwa untuk menciptakan kemakmuran, maka segala potensi alam
harus dibagi sama rata, sama rasa. Individu tidak mempunyai kebebasan untuk
memiliki atau apalagi mengakumulasi modal. Sistem penyamarataan ini sangat
adil. Karena di dalamnya tidak ada lagi kelas sosial.
Eropa baru saja
menyelesaikan pertentangannya antara kekuatan kapitalisme yang baru lahir
dengan rezim feodalisme. Sebelumnya, sejarah masyarakat Eropa lebih didominasi
oleh kaum bangsawan dan feodal. Kelas masyarakat inilah yang telah lama
mencengkramkan kuku penjajahannya pada masyarakat bawah. Namun, setelah sekian
lama berada dalam cengkraman kaum feodal, maka lahirlah kekuatan baru yakni
kaum kapitalis yang berusaha meruntuhkan otoritarianisme kaum feodal. Hal ini
ditandai dengan lahirnya Renaissance di
Eropa. Lahirnya era ini menandai lepasnya masyarakat dari era kegelapan yang
lebih didominasi oleh kaum bangsawan –feodal.
Era pencerahan membawa Eropa
ke dalam sebuah peralihan dari kaum feodal ke kaum kapital. Hal ini dipicu
dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johan Guttenberg pada abad ke 15 M.
Hadirnya mesin cetak mampu merubah kondisi sosial-budaya masyarakat Eropa. Hal
ini terutama dalam hal produksi. Sebelumnya, proses produksi bersifat manual. Pola
manual semacam ini sangat tidak efektif
untuk meningkatkan produksi tulisan.
Semakin mudah orang mencetak
buku secara massal, gairah untuk menulis juga meningkat. Namun, bagi masyarakat
awam mereka menyimpan tulisannya untuk dirinya sendiri. Hanya para bangsawan
yang mampu mencetak tulisannya. Karena biaya untuk cetak sangat mahal. Namun
yang harus diketahui adalah ditemukannya mesin cetak merupakan fenomena
revolusioner yang mampu mendobrak kebuntuan produksi. Mesin cetak merupakan
faktor utama terjadinya akselerasi dan peningkatan produksi buku dan bacaan. Fenomena
ini berimplikasi pada lahirnya era keterbukaan komunikasi. Dengan banyakanya
kuantitas buku yang dicetak, masing-masing orang terpicu saling tukar ide dan
pikiran. Maraknya diskusi dan pertukaran ide ini ternyata membawa akibat fatal
terhadap rezim bangsawan. Derasnya wacana dan pertukaran ide membuat budaya
kritis masyarakat semakin terasah sehingga mampu membongkar segala macam
kebusukan dan kebobrokan rezim bangsawan.
Revolusi teknologi itulah
yang menjadi titik tolak terjadinya perubahan-perubahan besar di masyarakat.
Fakta yang paling jelas sebagai konsekuensi munculnya revolusi teknologi ini
melahirkan Engels Revolusi Industri.
Hal ini, dalam bidang ekonomi berarti, telah terjadi perubahan mendasar dari
sistem pertanian ke sistem perindustrian. Ketika revolusi industri lahir, maka
fenomena ini diikuti dengan lahirnya revolusi sosial. Salah satunya adalah
terjadinya revolusi Perancis.
Bagi Gracchu Babeuf,
revolusi Perancis adalah pelopor revolusi lainnya, revolusi yang lebih
cemerlang menjadi revolusi terakhir. Dalam revolusi sosial ini, pihak yang
menjadi aktor utamanya adalah kelas sosial baru yakni kaum borjuis atau
kapitalis. Dengan hadirnya revolusi sosial ini, sistem feodal mulai runtuh dan
digantikan oleh sistem kapitalis. Namun, yang perlu diketahui juga, bahwa
peralihan dari feodalisme ke kapitalisme tidak sepenuhnya diwarnai revolusi.
Budaya penindasan yang
awalnya didominasi oleh kaum feodal kini tergantikan oleh kaum kapital. Dari
sinilah akhirnya kaum buruh Eropa sadar, bahwa dengan berkaca pada evolusi
Perancis, gerakan revolusi mereka ternyata hanya ditunggangi oleh kaum borjuis
untuk memperjuangkan kepentingan mereka sendiri. Setelah kekuasaan berada di
tangannya, kaum borjuis segera menunjukkan taring dan kuku-kuku tajamnya. Sistem
penindasan dan borjuasi itu terlihat dengan pemerasan tenaga para buruh di
pabrik-pabrik mereka.
Kondisi pekerja amat
memprihatinkan, sementara upah buruh sangat rendah. Teknologi baru yang
ditemukan itu justru memerangkap kehidupan kaum buruh ke dalam peniondasan yang
lebih kejam. Hadirnya teknologi ini menjadikan para kapitalis bebas melakukan
tawar menawar kepada buruh.
Rupanya hal itulah yang
dijadikan senjata para borju untuk meneror buruh. Kondisi buruh yang terhimpit
dan terintimidasi ini membuat para juragan semakin seenaknya sendiri terhadap
buruh. Mereka menggaji murah para buruh, melakukan PHK dan sebagainya. PHK ini
menjatuhkan daya tawar kaum buruh di hadapan para majikan dengan berprinsip pada
teori Adam Smith.
Seperti yang sudah
disinggung di atas bahwa lahirnya wacana ekonomi sosialis Marxis adalah lebih
sebagai antitesis (feed back)
terhadap sistem ekonomi kapitalis. Teori ini dicetuskan Marx karena berangkat
dari kegelisahannya bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang
tidak manusiawi. Di dalamnya telah diberlakukan penindasan dan perbudakan terhadap
para buruh.
Perlawanan kaum buruh ini
pada tingkat yang paling radikal adalah dimanifestasikan dengan terjadinya
revolusi proletariat. Bagi Marx, revolusi proletariat terjadi ketika
kapitalisme sudah berada di puncak kejayaannya. Puncak kejayaan kapitalisme
adalah awal runtuhnya kapitalisme. Revolusi ini lahir sebagai sikap kaum buruh
yang mencapai tingkat kemuakan dan kebingungan atas kerasnya penindasan dari
para pemodal.
Secara struktural, sistem
ekonomi Marx didasarkan pada masalah kapital yang terdiri dari persoalan
komoditi, uang atau sirkulasi sederhana dan kapital secara umum. Dalam
pembahasan teorinya ini Marx mendasarkan pada konsep pertentangan kelas. Bagi
Marx sejarah manusia adalah sejarah konflik dan pertentangan kelas yakni kelas
borjuis dan keas proletar. Kelas borjuis adalah pihak yang menguasai alat-alat
produksi sementara kelas proletar adalah pihak yang dikesloitasi tenaganya
dalam proses produksi.
Menurut Marx, sebuah
perekonomian kapitalis pada awalnya terdiri dari komoditas dalam jumlah besar,
ditambah individu yang menjadi pemilik dari komoditas itu, dan beberapa
hubungan pertukaran yang saling menghubungkan individu-individu itu. Pada
awalnya, individu-individu ini tidak merasa sebagai bagian dari kelas- kelas
sosial-ekonomi yang ada. Mereka juga tidak menganggap bahwa
kepentingan-kepentingan mereka bukan sebuah representasi dari kelas mereka.
Pembentukan kelas-kelas
individu ini lebih ditentukan oleh struktur dan dinamika perekonomian kapitalis.
Penentuan kelas ini tidak hanya berdasarkan pada kesamaan selera individu
tetapi posisi dan nasib mereka dalam struktur produksi. Artinya, posisi kelas
mereka ini lebih ditentukan oleh hubungan produksi mereka dalam aktifitas
ekonomi.
Perbedaan pola dan orientasi
dari dua model sirkulasi itulah yang memicu konflik. Konflik antar kelas (kelas
borjuis dan proletar) terjadi ketika dari pihak kaum borjuis menerapkan sistem
“upah subsistensi”. Artinya, dengan orientasi kaum kapitalis untuk mengakumulasikan
kapital, sementara kaum proletar hanya sekedar untuk mendapatkan komoditas lain
yang dibutuhkan, maka kaum kapitalis cukup memberikan upah kepada buruh sebatas
upah itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan.
Jika yang diberikan kepada
buruh hanyalah sebatas upah subsistensi, maka para kapital itu telah merampas
upah buruh yang tersisa. Dengan tenaganya yang mahal, buruh sebenarnya
memproduksi upah yang tinggi, namun oleh pihak kapitalis, upah yang diberikan
kepada kaum proletar hanya sebatas upah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Bagi Marx, seluruh nilai
tambah yang dihasilkan oleh para buruh seharusnya diberikan kepada buruh. Sementara
bagi kaum pemodal, ia sebenarnya hanya mempunyai modal pokok itu saja. Kalau
mau megambil seharusnya yang dia ambil adalah modal pokoknya saja. Namun dalam
dunia kapitalisme yang berlaku tidak demikian.
Inilah yang menurut Marx
bahwa sistem kapitalisme adalah sistem penghisapan. Sistem ini bisa langgeng
karena hasil penghisapan dan perampasannya terhadap hak-hak buruh, yang dalam
kontek ini adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh para buruh itu sendiri.
Oleh karena itu, Karl Marx percaya bahwa dalam rangka menghentikan penghisapan
dan penindasan sistem ekonomi liberalis-kapitalis yang tak manusiawi itu, perlu
ditegakkan ekonomi sosialis, sebuah sistem ekonomi tanpa kelas, tanpa hak milik
pribadi, tanpa kasta, tanpa kerakusan, tanpa ketamakan, non diskriminatif and
non sektarian, tak ada yang menguasai dan tak ada yang dikuasai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar