DIVIDEN
Contoh Kasus
PT. ABC (tidak terdaftar di Bursa
Efek Indonesia) pada tanggal 4 Mei 2014 mengumumkan pembagian dividen dalam
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pada tanggal 13 Agustus 2014 perusahaan
membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya, yang mana dividen
tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan. Total jumlah dividen yang
dibagikan adalah sebesar Rp.1.000.000.000,-. Susunan pemegang saham beserta
prosentase kepemilikan sahamnya adalah sbb :

Jawaban


Jawaban

SOAL: PT Inyong Bae, Tbk. mempunyai
100.000 lembar saham yang beredar dengan nilai nominal Rp5.000,00 per lembar
saham. Pada tanggal 15 Nopember 2012, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham,
Direksi perusahaan mengumumkan pembagian dividen dengan mekanisme sebagai
berikut:
- Pembagian dividen kas untuk pemegang saham dengan kepemilikan sampai dengan 10% sebesar @Rp50,00 per saham;
- Pembagian dividen saham sebesar 1% untuk pemegang saham dengan kepemilikan sampai dengan 20%;
- Pembagian dividen dialokasikan dari cadangan laba yang ditahan yang dibentuk dari tahun-tahun sebelumnya;
- Pembagian dividen akan didistribusikan pada tanggal 15 Januari 2013, kepada para pemegang saham yang tercatat pada tanggal 14 Desember 2012.
Komposisi
pemegang saham yang tercatat pada tanggal 14 Desember 2012 adalah sebagai
berikut:
- PT Adja Kelalen dengan kepemilikan 70%;
- PT Ricca Kepribhen dengan kepemilikan 20%;
- PT Medhang Jahe dengan kepemilikan 10%.
Berikut
adalah ikhtisar hak-hak para pemegang saham atau ekuitas perusahaan pada
tanggal 15 Nopember 2012:
- Saham Biasa, nominal @ Rp5.000,00 (100.000 lembar beredar) Rp500.000.000,00
- Agio Saham Biasa Rp100.000.000,00
- Laba Ditahan Rp650.000.000,00
Bagaimana
kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
JAWAB:
Sesuai
dengan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g dan Pasal 4 ayat (3) huruf f,
pada dasarnya dividen yang diterima oleh Wajib Pajak Badan terutang PPh Pasal
23, namun demikian dalam hal dividen tersebut diterima atau diperoleh perseroan
terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara,
atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
- dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
- bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor;
- maka atas pembayaran dividen tersebut dikecualikan dari objek pajak.
PPh Pasal 23
atas dividen PT Inyong Bae, Tbk. terutang pada tanggal penentuan kepemilikan
pemegang saham yang berhak atas dividen (recording date) yaitu pada
tanggal 14 Desember 2012.
Besarnya
pemotongan PPh Pasal 23 adalah sebesar:
- PT Adja Kelalen yang mempunyai kepemilikan saham sebesar 70% tidak dipotong PPh Pasal 23 karena kepemilikan sahamnya di PT Inyong Bae Tbk. diatas 25% dan dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;
PT Ricca
Kepribhen dengan kepemilikan saham sebesar 20% dipotong PPh Pasal 23 walaupun
dividen tersebut diberikan dalam bentuk saham.
Total
kepemilikan saham PT Ricca Kepribhen adalah 20% x 100.000 lbr = 20.000 lbr
Nilai
dividen saham:
1% x 20.000
lbr x Rp5.000,00 = Rp1.000.000,00.
PPh Pasal 23
yang dipotong:
15% x
Rp1.000.000,00 = Rp150.000,00
PT Medhang
Jahe dengan kepemilikan saham sebesar 10% dipotong PPh Pasal 23 sebagai
berikut:
Total
kepemilikan saham = 10% x 100.000 lbr
= 10.000 lembar
Nilai
dividen
= Rp50,00 x
10.000 lembar
= Rp500.000,00
PPh Pasal 23
yang dipotong = 15% x Rp500.000,00
= Rp75.000,00
Kewajiban PT
Inyong Bae Tbk. sebagai Pemotong PPh Pasal 23 adalah:
- melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar Rp150.000,00 dan Rp75.000,00 dan memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT Ricca Kepribhen dan PT Medhang Jahe;
- melakukan penyetoran atas pemotongan PPh Pasal 23 tersebut paling lambat tanggal 10 Januari 2014;
- melaporkan pemotongan PPh Pasal 23 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa PPh Pasal 23 masa pajak Desember 2012 paling lambat tanggal 21 Januari 2014.
4. Contoh
Perhitungan PPh Pasal 23
Contoh Kasus-1:
Pada tanggal 10 May 2010, PT. Sukses Gagalnya, membagikan dividen masing-masing Rp 10,000,000 kepada 20 pemegang sahamnya. Atas dividen yang dibagikan, PT. Sukses Gagalnya wajib memungut PPh Pasal 23.
PPh pasal 23 yang harus dipotong PT. Sukses Gagalnya adalah :
=>15% x Rp 10.000.000,- = Rp 150.000,-
=>20 x Rp 150.000,- = Rp 3.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Mei 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Juni 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Juni 2010
Pada tanggal 10 May 2010, PT. Sukses Gagalnya, membagikan dividen masing-masing Rp 10,000,000 kepada 20 pemegang sahamnya. Atas dividen yang dibagikan, PT. Sukses Gagalnya wajib memungut PPh Pasal 23.
PPh pasal 23 yang harus dipotong PT. Sukses Gagalnya adalah :
=>15% x Rp 10.000.000,- = Rp 150.000,-
=>20 x Rp 150.000,- = Rp 3.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Mei 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Juni 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Juni 2010
Contoh Kasus-2:
Pada tanggal 20 agustus 2010, PT. Tukang Utang membayar bunga atas pinjaman
membayarkan bunga kepada PT. Lintah
Darat sebesar Rp 90.000.000,-
PPh pasal 23 yang harus dipotong oleh PT Tukang Utang adalah :
=> 15% x Rp 90.000.000 = Rp 13.500.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Agustus 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 September 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 September 2010
=> 15% x Rp 90.000.000 = Rp 13.500.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Agustus 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 September 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 September 2010
Contoh Kasus-3:
CV. Ayam Goreng Krenyes-Krenyes buat Lemes membayar Royalti kepada Tuan. Doan Wiro Pasaribu atas pemakaian merek Ayam Goreng “Pak Doan” sebesar Rp 1.000.000.000,- pada tanggal 2 Maret 2010
PPh pasal 23 yang harus dipotong CV. Ayam Goreng Krenyes-Krenyes buat Lemes :
=> 15% x Rp 1.000.000.000,- = Rp 150.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Maret 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 April 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 April 2010
CV. Ayam Goreng Krenyes-Krenyes buat Lemes membayar Royalti kepada Tuan. Doan Wiro Pasaribu atas pemakaian merek Ayam Goreng “Pak Doan” sebesar Rp 1.000.000.000,- pada tanggal 2 Maret 2010
PPh pasal 23 yang harus dipotong CV. Ayam Goreng Krenyes-Krenyes buat Lemes :
=> 15% x Rp 1.000.000.000,- = Rp 150.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Maret 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 April 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 April 2010
Contoh Kasus-4 :
Doan Pasaribu mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp 200.000.000,- atas undian tabungan yang diselenggarakan Bank Kecap ABC pada tanggal 20 Januari 2010
PPh pasal 23 yang harus dipotong Bank Kecap ABC adalah :
=> 15% x Rp 200.000.000,- = Rp 30.000.000,-
Doan Pasaribu mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp 200.000.000,- atas undian tabungan yang diselenggarakan Bank Kecap ABC pada tanggal 20 Januari 2010
PPh pasal 23 yang harus dipotong Bank Kecap ABC adalah :
=> 15% x Rp 200.000.000,- = Rp 30.000.000,-
Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31
Januari2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Februari 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Februari 2010
Saat Penyetoran : paling lambat 10 Februari 2010
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Februari 2010
Contoh Kasus-5 :
PT. Selalu Susah menyewa sebuah bus pariwisata dengan nilai sewa Rp
20.000.000,- milik Budi
PPh pasal 23 yang harus dipungut PT. Selalu Susah
=> 2% x Rp. 20.000.000,- = Rp 400.000,-
=> 2% x Rp. 20.000.000,- = Rp 400.000,-
Apabila Budi tidak mempunyai NPWP maka PPh Pasal 23 yang dipotong PT. Selalu
susah adalah Rp 800.000,-
Contoh Kasus-6 :
PT Kalkulus
meminta jasa dari Pak Dodi untuk membuat sistem akuntansi Perusahaan dengan imbalan sebesar Rp. 22.000.000,- (sudah termasuk PPN)
PPh pasal 23 yang dipotong PT kalkulus adalah
2% x Rp 20.000.0000,- = Rp 400.000,-
PPh pasal 23 yang dipotong PT kalkulus adalah
2% x Rp 20.000.0000,- = Rp 400.000,-
PT. Celalu cayang dy
membayarkan jasa konsultan PT Jaya sebesar Rp 2.200.000 (termasuk PPN). PT jaya
tidak mempunyai NPWP
maka PPh pasal 23 yang dipotong PT. Celalu cayang dy adalah:
200% x 2% x Rp 2.000.000 = Rp 80.000,-
maka PPh pasal 23 yang dipotong PT. Celalu cayang dy adalah:
200% x 2% x Rp 2.000.000 = Rp 80.000,-
Contoh Soal
dan Perhitungannya
PT Perdana
merupakan perusahaan penerbitan dan percetakan. Perusahaan ini didirikan pada
tahun 2000, beralamat di Jl. Tentara Pelajar No. 7 Yogyakarta. NPWP
01.555.444.1.541.000. Pembayaran honorarium dan imbalan lain sehubungan dengan
PPh Pasal 23 selama bulan Oktober 2011 sebagai berikut :
1.Pada tanggal
10 Oktober 2011, membayar bunga pinjaman kepada Bank Mandiri Yogyakarta sebesar
Rp1.000.000.
Bank Mandiri beralamat di Jl. Diponegoro No. 133 Yogyakarta, NPWP
01.222.333.2.541.000
2.Pada
tanggal 15 Oktober 2011, membayar royalti kepada beberapa penulis yaitu :
3.Pada
tanggal 20 Oktober 2011, memebayar jasa perbaikan mesin produksi yang telah
rusak sebesar Rp 15.000.000 kepada PT Maju Jaya, yang beralamat di Jl. Godean
No. 26 Yogyakarta, NPWP 01.446.577.2.541.000
4.Pada
tanggal 22 Oktober 2011, membayar fee sebesar Rp22.000.000 kepada Kantor
Akuntan Publik Dwiananda, yang beralamat di Jl Mrican No. 200 Yogyakarta, NPWP
04.322.233.2.541.000
5.Pada
tanggal 29 Oktober 2011, membayar sewa kendaraan untuk mendistribusikan hasil
produksi ke beberapa kota, sewa dibayarkan ke Andika Rental sebesar Rp6.000.000
yang beralamat di Jl. Adisucipto No. 38 Yogyakarta, NPWP 01.111.333.1.541.000
Diminta :
1.Hitunglah
PPh Pasal 23 yang dipotong PT.
2.Buatkan
bukti pemotongan PPh Pasal 23 untuk setiap Wajib Pajak
3.Setorkan
PPh Pasal 23 yang telah terpotong
4.Buatkan
SPT Masa PPh Pasal 23 Oktober 2011 untuk PT Perdana
Jawab :
Perhitungan PPh Pasal 23 dan bukti
pemotongan yang dibuatkan oleh Pt Perdana dijelaskan sebagai berikut :
1. Atas
pembayaran bunga sebesar Rp1.000.000 kepada Bank Mandiri tidak dipotong pajak
karena Penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada bank merupakan
pengecualian dari pengenaan PPh Pasal 23.
2. Atas pembayaran royalti kepada penilis dipotong PPh Pasal 23 sebagai berikut :
Masing-masing
wajib pajak dibuatkan hasil bukti pemotongan nomor : 01/Ps-23/10/2011,
02/Ps-23/10/2009, 03/Ps-23/10/2011.
3. Atas
pembayaran imbalan jasa teknik kepada PT Maju Jaya sebesar Rp15.000.000
dipotong PPh Pasal 23 sebesar :
Tarif 2% x
penghasilan bruto :
= 2% x
Rp15.000.000
= Rp300.000
Bukti
Pemotongan PPh Pasal 23 nomor 04/Ps-23/10/2011
4. Atas
pembayran fee kepada Kantor Akuntan Dwiananda & Co. sebesar Rp22.000.000
dipotong PPh Pasal 23 sebesar : Tarif 2% x penghasilan bruto :
= 2% x Rp22.000.000
= Rp440.000
Bukti
Pemotongan PPh Pasal 23 nomor 05/Ps-23/10/2011
5. Atas
pembayaran sewa kendaraan kepada Andika Rental sebesar Rp6.000.000, dipotong
PPh Pasal 23 sebesar : Tarif 2% x penghasilan bruto :
= 2% x
Rp6.000.000
= Rp120.000
Bukti Pemotongan
PPh Pasal 23 nomor 06/Ps-23/10/2011
Total PPh
pasal 23 yang dipotong dan disetor adalah :



Tidak ada komentar:
Posting Komentar