Analisis
pertimbangan kondidi perekonomian PT Garuda Metalindo
I.
Berdasarkan Kondisi Global
a. Suku
Cadang
Dalam proses produksi,
PT. Garuda Metalindo masih mengandalkan impor bahan baku dari luar. Adanya
penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut berpengaruh terhadap
penjualan baut dan mur PT. Garuda Metalindo. Pelemahan rupiah ikut mempengaruhi
biaya produksi karena bahan baku sektor ini masih mengandalkan impor. Akibat
biaya produksi naik, maka laba bersih perusahaan akan menurun, diikuti dengan cashflow
yang juga menurun dan berdampak pada rendahnya pertumbuhan (growth).
b.
Harga Komoditas
PT Garuda Metalindo selalu
melakukan evaluasi perhitungan terhadap komponen utama bisnisnya jika memang
terjadi penurunan harga komoditi besi, seperti yang terjadi di kawasan China.
Adanya penurunan harga komoditas besi tersebut selalu dihitung serta dibandingkan dengan
jumlah permintaan dari pelanggan.
c. Embargo
Selama berlangsungnya
proses produksi, serta proses ekspor dan impor yang dilakukan oleh PT Garuda Metalindo
tidak terjadi adanya peristiwa embargo atau perang.
II.
Berdasarkan Kondisi Makro
a. Gross
Domestic Product (GDP)
Perekonomian
Indonesia yang diukur berdasarkan GDP atas dasar harga yang berlaku saat
triwulan II tahun 2015 mencapai Rp2.866,9 triliun dan atas dasar harga konstan
2010 mencapai Rp2.239,3 triliun.
Perekonomian
Indonesia saat triwulan II tahun 2015 terhadap triwulan II tahun 2014 tumbuh
4,67%, melambat dibanding capaian triwulan II tahun 2014 yang tumbuh 5,03% dan
triwulan I tahun 2015 yang tumbuh 4,72%. Dari sisi produksi, pertumbuhan
didorong oleh lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Jasa Pendidikan
yang tumbuh 12,16%. Dari sisi pengeluaran didukung oleh pertumbuhan Komponen
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97%.
Perekonomian
Indonesia triwulan II tahun 2015 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh 3,78%. Dari
sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan,
dan Perikanan sebesar 10,09%, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 32,17%.
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia semester I tahun 2015 tumbuh 4,70%. Dari sisi produksi,
pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan
Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 3,58%. Sedangkan dari sisi
pengeluaran didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang
tumbuh 4,99%.

Dengan
adanya pertumbuhan Gross Domestic Product
tersebut, menyebabkan adanya peningkatan harga saham sebesar 27,27%
menjadi Rp700 per saham dari harga penawaran Rp550 per saham.
b. Tingkat
Pengangguran
Angkatan kerja Indonesia pada Februari
2015 sebanyak 128.300.000 orang, bertambah sebanyak 6.400.000 orang dibanding
Agustus 2014 atau bertambah sebanyak 3.000.000 orang dibanding Februari 2014.
Penduduk bekerja pada Februari 2015
sebanyak 120.800.000 orang, bertambah 6.200.000 orang dibanding keadaan Agustus
2014 atau bertambah 2.700.000 orang dibanding keadaan Februari 2014.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Februari 2015 sebesar 5,81% menurun dibanding TPT Agustus 2014 (5,94%), dan
meningkat dibandingkan TPT Februari 2014 (5,70%).
Selama setahun terakhir (Februari
2014–Februari 2015) kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor
Industri sebanyak 1,0 juta orang (6,43%), Sektor Jasa Kemasyarakatan sebanyak
930 ribu orang (5,03%), dan Sektor Perdagangan sebanyak 840 ribu orang (3,25%).
Dengan adanya penurunan tingkat
pengangguran, berpengaruh terhadap peningkatan harga jual, peningkatan
penjualan (Rp630.551.122.218 menjadi 728.824.995.902), peningkatan laba (Rp 66.088.410.747 menjadi Rp 101.973.000.334), serta peningkatan harga saham menjadi Rp700 per
saham dari harga penawaran Rp550 per saham
c. Tingkat Suku
Bunga Kredit
Tingkat suku bunga
dihitung berdasakan nilai rata-rata tertimbang dan disediakan hanya untuk
kredit yang tidak diprioritaskan. Tingkat suku bunga pinjaman diklasifikaikan
menurut jenis-jenis bank sebagai berikut : Bank Negara, Bank Pemerintah Daerah,
Bank Swasta Nasional,Bank asing dan bersama, Bank komersial.
![]() |
.
Berdasarkan
data tersebut, terjadi penurunan atas tingkat bunga kredit (dari 7,75 menjadi
7,5). Dengan adanya penurunan
atas tingkat
bunga kredit, berpengaruh terhadap peningkatan
investasi (Rp 15.959.136.400
menjadi Rp 16.130.644.636), peningkatan GDP, peningkatan penjualan (Rp630.551.122.218
menjadi 728.824.995.902), peningkatan laba (Rp 66.088.410.747 menjadi Rp 101.973.000.334), serta peningkatan harga saham menjadi Rp700 per
saham dari harga penawaran Rp550 per saham.
d. Inflasi

Pada Agustus
2015 terjadi inflasi sebesar 0,39% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar
121,73. Inflasi terjadi karena adanya
kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok
pengeluaran. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2015 sebesar
2,29% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2015 terhadap Agustus 2014)
sebesar 7,18%.
e. Pemerintah (Government)

Pengeluaran
pemerintah di Indonesia meningkat menjadi Rp192.900 Miliar pada kuartal ketiga
tahun 2015 dari Rp176.800 Miliar pada kuartal kedua tahun 2015. Pengeluaran pemerintah di
Indonesia rata-rata Rp83.734,31
Miliar dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015, mencapai pengeluaran
tertinggi sebesar Rp259.378,52 Miliar
pada kuartal keempat 2014 dan pengeluaran
terendah sebesar Rp21.713,30 Miliar pada kuartal ketiga tahun 2000.
Dengan adanya peningkatan atas government spending, berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi
sehingga GDP pun meningkat.
f.
Sentimen
Dengan adanya peningkatan
GDP serta tingkat konsumsi yang tinggi, menunjukkan bahwa sentimen yang terjadi
pada PT Garuda Metalindo adalah sentimen positif.
III.
Berdasarkan Kondisi Industri
a. Leading
Indicator
Dalam
ekonomi makro,
resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto
(GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi
riil bernilai negatif selama dua kuartal
atau lebih dalam satu tahun. Berdasarkan
data yang telah diperoleh diketahui bahwa tidak ada penurunan GDP sehingga
tidak terjadi resesi pada PT Garuda Metalindo.
IV.
Berdasarkan Kondisi Perusahaan






Berdasarkan data tersebut
dapat diketahui bahwa pertumbuhan (growth)
PT Garuda metalindo adalah 1% pada tahun pertama dan kedua, 3% pada tahun
ketiga dan keempat, serta 5% pada tahun kelima.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar