Senin, 14 Desember 2015

Analisis IPO PT Garuda Metalindo



Analisis pertimbangan kondidi perekonomian PT Garuda Metalindo
                   I.            Berdasarkan Kondisi Global
a.       Suku Cadang
Dalam proses produksi, PT. Garuda Metalindo masih mengandalkan impor bahan baku dari luar. Adanya penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut berpengaruh terhadap penjualan baut dan mur PT. Garuda Metalindo. Pelemahan rupiah ikut mempengaruhi biaya produksi karena bahan baku sektor ini masih mengandalkan impor. Akibat biaya produksi naik, maka laba bersih perusahaan akan menurun, diikuti dengan cashflow yang juga menurun dan berdampak pada rendahnya pertumbuhan (growth).
b.      Harga Komoditas
PT Garuda Metalindo selalu melakukan evaluasi perhitungan terhadap komponen utama bisnisnya jika memang terjadi penurunan harga komoditi besi, seperti yang terjadi di kawasan China. Adanya penurunan harga komoditas besi tersebut  selalu dihitung serta dibandingkan dengan jumlah permintaan dari pelanggan.
c.       Embargo
Selama berlangsungnya proses produksi, serta proses ekspor dan impor yang dilakukan oleh PT Garuda Metalindo tidak terjadi adanya peristiwa embargo atau perang.
                II.            Berdasarkan Kondisi Makro
a.       Gross Domestic Product (GDP)
Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan GDP atas dasar harga yang berlaku saat triwulan II tahun 2015 mencapai Rp2.866,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.239,3 triliun.
Perekonomian Indonesia saat triwulan II tahun 2015 terhadap triwulan II tahun 2014 tumbuh 4,67%, melambat dibanding capaian triwulan II tahun 2014 yang tumbuh 5,03% dan triwulan I tahun 2015 yang tumbuh 4,72%. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Jasa Pendidikan yang tumbuh 12,16%. Dari sisi pengeluaran didukung oleh pertumbuhan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,97%.
Perekonomian Indonesia triwulan II tahun 2015 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh 3,78%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 10,09%, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 32,17%.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I tahun 2015 tumbuh 4,70%. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 3,58%. Sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 4,99%.







Dengan adanya pertumbuhan Gross Domestic Product tersebut, menyebabkan adanya peningkatan harga saham sebesar 27,27% menjadi Rp700 per saham dari harga penawaran Rp550 per saham.
b.      Tingkat Pengangguran
Angkatan kerja Indonesia pada Februari 2015 sebanyak 128.300.000 orang, bertambah sebanyak 6.400.000 orang dibanding Agustus 2014 atau bertambah sebanyak 3.000.000 orang dibanding Februari 2014.
Penduduk bekerja pada Februari 2015 sebanyak 120.800.000 orang, bertambah 6.200.000 orang dibanding keadaan Agustus 2014 atau bertambah 2.700.000 orang dibanding keadaan Februari 2014.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2015 sebesar 5,81% menurun dibanding TPT Agustus 2014 (5,94%), dan meningkat dibandingkan TPT Februari 2014 (5,70%).
Selama setahun terakhir (Februari 2014–Februari 2015) kenaikan penyerapan tenaga kerja terjadi terutama di Sektor Industri sebanyak 1,0 juta orang (6,43%), Sektor Jasa Kemasyarakatan sebanyak 930 ribu orang (5,03%), dan Sektor Perdagangan sebanyak 840 ribu orang (3,25%).
Dengan adanya penurunan tingkat pengangguran, berpengaruh terhadap peningkatan harga jual, peningkatan penjualan (Rp630.551.122.218 menjadi 728.824.995.902), peningkatan laba (Rp 66.088.410.747 menjadi Rp 101.973.000.334), serta peningkatan harga saham menjadi Rp700 per saham dari harga penawaran Rp550 per saham
c.       Tingkat Suku Bunga Kredit
Tingkat suku bunga dihitung berdasakan nilai rata-rata tertimbang dan disediakan hanya untuk kredit yang tidak diprioritaskan. Tingkat suku bunga pinjaman diklasifikaikan menurut jenis-jenis bank sebagai berikut : Bank Negara, Bank Pemerintah Daerah, Bank Swasta Nasional,Bank asing dan bersama, Bank komersial.


 














.









Berdasarkan data tersebut, terjadi penurunan atas tingkat bunga kredit (dari 7,75 menjadi 7,5). Dengan adanya penurunan atas tingkat bunga kredit, berpengaruh terhadap peningkatan investasi (Rp 15.959.136.400 menjadi Rp 16.130.644.636), peningkatan GDP, peningkatan penjualan (Rp630.551.122.218 menjadi 728.824.995.902), peningkatan laba (Rp 66.088.410.747 menjadi Rp 101.973.000.334), serta peningkatan harga saham menjadi Rp700 per saham dari harga penawaran Rp550 per saham.




d.      Inflasi
















Pada Agustus 2015 terjadi inflasi sebesar 0,39% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 121,73.  Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) 2015 sebesar 2,29% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Agustus 2015 terhadap Agustus 2014) sebesar 7,18%.

e.       Pemerintah (Government)








Pengeluaran pemerintah di Indonesia meningkat menjadi Rp192.900 Miliar pada kuartal ketiga tahun 2015 dari Rp176.800 Miliar pada kuartal kedua tahun 2015. Pengeluaran pemerintah di Indonesia rata-rata Rp83.734,31 Miliar dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015, mencapai pengeluaran tertinggi sebesar Rp259.378,52 Miliar pada kuartal keempat 2014 dan pengeluaran terendah sebesar Rp21.713,30 Miliar pada kuartal ketiga tahun 2000.
Dengan adanya peningkatan atas government spending, berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi sehingga GDP pun meningkat.
f.       Sentimen
Dengan adanya peningkatan GDP serta tingkat konsumsi yang tinggi, menunjukkan bahwa sentimen yang terjadi pada PT Garuda Metalindo adalah sentimen positif.
             III.            Berdasarkan Kondisi Industri
a.       Leading Indicator
Dalam ekonomi makro, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.  Berdasarkan data yang telah diperoleh diketahui bahwa tidak ada penurunan GDP sehingga tidak terjadi resesi pada PT Garuda Metalindo.
             IV.            Berdasarkan Kondisi Perusahaan













            Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pertumbuhan (growth) PT Garuda metalindo adalah 1% pada tahun pertama dan kedua, 3% pada tahun ketiga dan keempat, serta 5% pada tahun kelima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar