Oleh : Maria Gabriela ( 2013 012 459 )
KONDISI
PEREKONOMIAN INDONESIA
PADA MASA PEMERINTAHAN SBY
Tingkat
pertumbuhan ekonomi periode 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK relatif
lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi dan rata-rata
pemerintahan Soeharto (1990-1997) yang pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. Tetapi,
dibanding kinerja Soeharto yang pertumbuhan ekonominya sekitar 7%, kinerja pertumbuhan
ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto
tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9,9%. Rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK selama lima
tahun menjadi 6,4%, angka yang mendekati target 6,6%
Inflasi 2005
Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, dan
sebelumnya Maret 2005, ternyata berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun
berikutnya. Pemerintahan SBY-JK memang harus menaikkan harga BBM dalam
menghadapi tekanan APBN yang makin berat karena lonjakan harga minyak dunia.
Kenaikan harga BBM tersebut telah mendorong tingkat inflasi Oktober 2005
mencapai 8,7% yang merupakan puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005
dan akhirnya ditutup dengan angka 17,1% per 30 Desember 2005. Penyumbang
inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi lebih 40% dan harga bahan
makanan 18%. Core inflation pun naik menjadi 9,4%, yang menunjukkan
kebijakan Bank Indonesia (BI) sebagai pemegang otoritas moneter menjadi tidak
sepenuhnya efektif. Inflasi yang mencapai dua digit ini jauh melampaui angka
target inflasi APBNP II tahun 2005 sebesar 8,6%. Inflasi sampai bulan Februari
2006 masih amat tinggi 17,92%, bandingkan dengan Februari 2005 7,15% atau
Februari 2004 yang hanya 4,6%. Efek inflasi tahun 2005 cukup berpengaruh
terhadap tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), yang menjadi
referensi suku bunga simpanan di dunia perbankan.
Pertumbuhan Ekonomi 2004-2009 (Turun)
Berdasarkan janji kampanye dan usaha untuk
merealisasikan kesejahteraan rakyat, pemerintah SBY-JK selama 4 tahun belum
mampu memenuhi target janjinya yakni pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas
6.6%. Sampai tahun 2008, pemerintah SBY-JK hanya mampu meningkatkan pertumbuhan
rata-rata 5.9% padahal harga inflasi naik sebesar 10.3%. Ini menandakan secara
ekonomi makro, pemerintah gagal mensejahterakan rakyat. Tidak ada prestasi yang
patut diiklankan oleh Demokrat di bidang ekonomi.
|
Pertumbuhan
|
Janji Target
|
Realisasi
|
Keterangan
|
|
2004
|
ND
|
5.1%
|
|
|
2005
|
5.6%
|
Tercapai
|
|
|
2006
|
6.1%
|
5.5%
|
Tidak
tercapai
|
|
2007
|
6.7%
|
6.3%
|
Tidak
tercapai
|
|
2008
|
7.2%
|
Tidak
tercapai
|
|
|
2009
|
7.6%
|
~5.0%
|
Tidak
tercapai *
|
Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)
Secara alami, setiap tahun inflasi akan naik. Namun,
pemerintah akan dikatakan berhasil secara makro ekonomi jika tingkat inflasi
dibawah angka pertumbuhan ekonomi. Tetapi faktanya adalah inflasi yang terjadi selama
empat tahun nilainya dua kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi.
|
Tingkat Inflasi
|
Janji Target
|
Fakta
|
Catatan Pencapaian
|
|
2004
|
6.4%
|
||
|
2005
|
7.0%
|
17.1%
|
Gagal
|
|
2006
|
5.5%
|
6.6%
|
Gagal
|
|
2007
|
5.0%
|
6.6%
|
Gagal
|
|
2008
|
4.0%
|
11.0%
|
Gagal
|
Selama 4 tahun pemerintahan, demokrat yang terus
mendukung SBY tidak mampu mengendalikan harga barang dan jasa sesuai dengan
janji yang tertuang dalam kampanye dan RPM yakni rata-rata mengalami
inflasi 5.4% (2004-2009) atau 4.9% (2004-2008). Fakta yang terjadi adalah harga
barang dan jasa meroket dengan tingkat inflasi rata-rata 10.3% selama periode
2004-2008. Kenaikan harga barang dan jasa melebihi 200% dari target semula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar